Wednesday, November 30, 2011

Ampunan dan Doa (42:25-26)


Ampunan dan Doa (42:25-26)

Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, (42:25)

dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. (42:26)

Inilah sebagian ayat yang membicarakan tentang ampunan dan doa. Topik tentang ampunan dan doa adalah topik sangat penting, karena menyangkut nasib manusia di akhirat dan juga nasib di dunia. Bagaimana tidak, harapan utama di akhirat adalah agar dosa dan kesalahan selama hidup di dunia diampuni oleh Allah. Betapapun besarnya dosa dan maksiat seseorang, ampunan selalu menjadi harapan besarnya. Dan Allah telah menjanjikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat. 
Sedangkan Doa adalah sebuah harapan yang disandarkan kepada Allah dengan sebuah keyakinan bahwa Allah akan memudahkan orang yang berdoa mencapai harapannya. 
Isi doa sangat beragam. Bisa berhubungan dengan kehidupan akhirat, bisa juga berhubungan dengan kehidupan dunia. Bahkan bisa jadi doa yang berhubungan dengan kehidupan dunia lebih dominan dibandingkan dengan akhirat. Karena doa tentang sesuatu yang berhubungan dengan akhirat sangat dipengaruhi oleh keimanan seseorang, terutama keimanan tentang kehidupan akhirat yang abadi, tentang siksa neraka dan surga, dan tentang kematian. Pendek kata seseorang yang sedang berada dalam gelimang dunia sehingga membuatnya lupa kepada Allah dan kehidupan akhiratnya, lebih sering lupa berdoa untuk kehidupan akhiratnya.
Sebaliknya doa yang berhubungan dengan kehidupan dunia lebih sering dilantunkan, baik dilantunkan dengan bibirnya setelah shalat atau waktu-waktu yang lain, ataupun dilantunkan dalam hati pada waktu-waktu utama untuk berdoa dan bahkan di setiap waktu. Belum lagi pada umumnya manusia lebih mudah mengenali problem yang berhubungan dengan dunia dibandingkan dengan problem yang berhubungan dengan akhirat. Maka tidak aneh jika doa yang berhubungan dengan dunia lebih dominan dilantunkan seseorang dibandingkan doa yang berhubungan dengan akhirat.
Itulan Ampunan dan Doa yang sesunggunya merupakan bagian
tak terpisahkan dari kehidupan manusia. 
Dua ayat tersebut di atas berbicara tentang dua hal ini sehingga karenanya menarik untuk diulas dan ditadabburi. Pemahaman yang benar tentang kedua ayat diharapkan bisa menjadi motivasi bagi seseorang untuk menggapai kehidupannya yang dipenuhi dengan ketenangan jiwa dan kebahagiaan yang sebenarnya serta beroleh keselamatan di akhirat kelak. Apapun peristiwa yang menimpanya bisa membuatnya tetap dalam ketenangan dan kebahagiaan, sebab sesungguhnya ketenangan dan kebahagiaan itu adalah bagaimana sikap kita terhadap peristiwa yang terjadi, bukan karena seberapa besar peristiwa itu.
Ayat 25 Surat 42 (As-Syura) langsung menyatakan bahwa Allah menerima taubat dan mengampuni kesalahan-kesalahan. Sebuah pernyataan yang sangat motivatif agar manusia optimis bahwa dia diterima Allah dan tidak dibiarkan atau bahkan ditolak oleh Allah. Secara psikis tentu manusia akan memiliki positif thingking kepada Allah. Padahal sebagaimana sebuah hadits qudsi menyatakan bahwa "Ana 'inda dzonni abdi bii", Aku (Allah) tergantung dari persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Ibarat seseorang yang datang dari perjalanan melelahkan kemudai tiba-tiba melihat sebuah istana megah, dan di sana ada sebuah tulisan besar yang menyatakan bahwa "siapapun Anda yang melihat istana ini, silakan mampir sejenak untuk menikmati keindahannya tanpa dipungut biaya". Maka orang tersebut tak ada kehendak lain kecuali segera sampai di istana itu. Betapa sangat indah dan sejuk Allah mengawali ayat ini untuk menumbuhkan harapan besar akan diampuninya dosa dan kesalahan sebesar apapun dosa dan kesalahan itu.
Retorika ayat ini juga sedemikian mengesankan, karena memberikan jalan keluar dari keputusasaan para ahlul ma'ashy (ahli ma'siat) yaitu apabila mereka menginginkan ampunan yang begitu mudah, maka caranya tidak rumit, hanya dengan bertaubat kepada Allah. Maka Allah akan menerima taubatnya dan mengampuni kesalahannya. Taubat perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bukannya berpura-pura hanya untuk menipu Allah dan manusia. Manusia boleh tertipu oleh perbuatan seseorang termasuk yang hanya berpura-pura taubat, tapi Allah tidak. Hal ini dinyatkan dalam akhir ayat 25 ini, bahwa Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sebaik apapun perbuatan seseorang atau seburuk apapun perbuatan seseorang sudah pasti Allah mengetahuinya, sebagaimana sebaik apapun atau seburuk apapun niat seseorang untuk melakukan berbagai perbuatan, maka Allah mengetahuinya dengan jelas dan detil. Allah telah menyatakan bahwa Dia menerima taubat dan mengampuni kesalahan manusia. Pernyataan ini sungguh tidak terlepas dari pengetahuan Allah akan kehidupan manusia. Bahwa bentuk-bentuk perbuatan dosa dan kekejaman manusia telah diketahui Allah seluruhnya, sejak dari manusia pertama sampai manusia terakhir. Tidak satupun jenis kemaksiatan dan perbuatan hina manusia yang pernah dan akan hidup nanti, yang tidak diketahui secara pasti oleh Allah. Kalaupun pada zaman ini ada kelakuan bejat manusia yang sama sekali tidak terbayangkan oleh umat terdahulu misalnya, maka itupun sudah diketahui oleh Allah. Dan terhadap perbuatan-perbuatan seperti itu, semuanya, Allah telah menjanjikan taubat dan ampunan. Maha Suci Allah yang Maha Pengampun. Maka hendaklah taubat dan ampunan ini menjadi inspirasi besar bagi manusia untuk tidak pernah putus asa bertaubat kepada Allah dan mohon ampun atas semua dosa.

"dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. (42:26)"

Ayat ini menegaskan tentang doa. Disebutkan bahwa Allah memperkenankan doa orang beriman dan beramal shalih, bahkan tidak hanya itu, Allah menambahkan bagi mereka karunia-Nya, termasuk pahala. Ayat ini menjelaskan bahwa dikabulkannya doa adalah kekuasaan dan kehendak Allah. Dan Allah menjanjikan bahwa doa orang mukmin dan yang beramal saleh akan dikabulkan. Ayat ini sekali lagi berbicara tentang 'kelayakan' hamba untuk menerima karunia Allah. Sesungguhnya 'kelayakan' ini mutlak milik Allah tanpa syarat, namun Allah yang Maha Bijaksana memberikan tuntunan kepada manusia tentang bagaimana mencapai 'kelayakan' itu menurut ukuran manusia. Maka tuntunan itu adalah dengan menanamkan keimanan dalam diri dan beramal saleh dengan landasan iman dan tuntunan wahyu-Nya. 
Inilah ibroh yang seharusnya diambil dalam hubungan hamba dan Robbnya. Ibroh tentang bagaimana ber-tawazun (menyeimbangkan) dan memahami keberadaan Allah yang Maha Kuasa dan manusia yang secara fitrah memahami seluruh kejadian yang menimpanya dengan rasionalitas akalnya. Bahwa di satu sisi Kekuasaan Allah itu mutlak tanpa syarat meliputi kehidupan dunia dan akhirat seluruh makhluk, termasuk manusia. Di sisi lain manusia yang dikarunia Akal oleh Allah juga diperintahkan untuk menggunakan akalnya mentadabburi Nash Qouliyah dan alam kauny yang ada di sekitarnya. Nash Qouly adalah tuntunan langsung dari Allah melalui Rasul-Nya kepada hamba-Nya, manusia. Ayat Kauny juga sesunggunya tuntunan Allah kepada manusia, namun manusia harus memanfaatkan akalnya agar bisa mengambil pelajaran dan fenomena alam.
Selain dikabulkannya doa, ayat ini juga memberitahukan tentang karunia tambahan bagi orang mukmin dan beramal shalih dari Allah SWT. Saat-saat seorang hamba merasakan doanya sedang dikabulkan Allah adalah saat yang sangat membahagiakan. Namun Allah menambahkan kepada mukmin dan beramal shalih karunia lain yang melebihi apa yang dimintanya.


tadabbur surat al anfal ayat 63




tentang ukhwah (tadabbur surat al anfal ayat 63)


Pernah kudefinisikan ukhwah hadir karena seringnya berinteraksi, sehingga semakin mengenal dan memahami
Pernah kudefinisikan ukhwah hadir karena lapang dan dalamnya hati dalam memahami
Pernah kudefinisikan ukhwah hadir ketika seorang memahami dan membantu saudaranya dengan hati yang lapang dan ikhlas
Ternyata itu semua bukanlah ukhwah itu sendiri, lalu apa itu ukhwah?
Ikhwah fillah, itulah sepenggal pertanyaan yang pernah bergelayut cukup lama di benak saudaramu ini. Ya, sebenarnya ukhwah itu apa? Apakah sekedar seperti yang kusebutkan diatas, ternyata tidak. Menjawab pertanyaan tersebut, segera kubuka buku pedoman hidup seluruh manusia The Holy Koran. Ternyata jawabannya ada disana!!! Ketika kutelusuri ayat demi ayat hingga sampailah aku pada surat Al-anfal ayat 63
dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)]. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana
Coba perhatikan redaksi yang digunakan dan maknanya. Ternyata ukhwah hadir karena pemberian Allah dan merupakan salah satu nikmat Allah kepada hambaNya yang beriman. Karena ukhwah merupakan nikmat yang dikarenakan keimanan kepada Allah maka tak heran bahwa nikmatnya berukhwah pun dirasakan ketika keimanan kita sedang dalam kondisi baik.
Ikhwah fillah, coba kita renungi kembali, ketika ukhwah semakin kering, ketika ukhwah hanya sekedar menjadi pemanis bibir tanpa tindakan, ukhwah hanya ada dalam dunia harapan dan impian, ketika kita semakin tidak nyaman dengan saudara-saudara kita, hal pertama yang harus kita lakukakan adalah mengecek kembali kondisi keimanan kita. Karena siapa tahu keimana kita yang semakin menipis yang membuat Allah mencabut nikmat ukhwah dari hati-hati kita.
Ketika keimanan menipis maka tidak ada lagi hudznuzhan, yang timbul hanyalah prasangka-prasangka yang mematikan hati. Tidak ada lagi tabayun yang ada hanyalah prasangka-prasangka yang sudah pasti ‘ah!! Akh ini mah pasti begini, ukh itu mah begitu’. Mungkin itu yang sering terjadi pada kita semua. Sehingga yang terjadi adalah kecewa dan akhirnya pergi meninggalkan dakwah ini. Apakah itu yang kita inginkan?? Menjadi penyebab saudara kita meninggalkan dakwah ini !?
Karena itu, ketika kita merasa ukhwah diantara kita semakin mengering bahkan kerontang, yang harus pertama kita evaluasi adalah kondisi keimanan kita dan saudara-saudara kita, kemuadian saling ingat mengingatkanlah dalam kebenaran dan ketaqwaan. Moga Allah selalu menghadirkan ukhwah yang tulus ke dalam hati-hati kita.

Saturday, November 26, 2011

ADANYA SEBAGIAN ORANG MUSLIM YANG MASUK SURGA TANPA HISAB


ADANYA SEBAGIAN ORANG MUSLIM YANG MASUK SURGA TANPA HISAB


126. Sahl bin Saad r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda : Pasti akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu  (periwayat ragu, 70.000 atau 700.000) bersama-sama yang satu memegang yang lain, tidak masuk yang pertama sehingga masuk juga yang akhir, wajah mereka bagaikan bulan purnama.  (Bukhari, Muslim).

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا أَوْ سَبْعُ مِائَةِ أَلْفٍ شَكَّ فِي أَحَدِهِمَا مُتَمَاسِكِينَ آخِذٌ 

بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُهُمْ وَآخِرُهُمْ الْجَنَّةَ وَوُجُوهُهُمْ عَلَى ضَوْءِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِقَالَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ


129. Abu Hurairah r.a. berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda:  Akan ada rombongan dari umatku tujuh puluh ribu masuk surga tanpa hisab, bercahaya muka mereka bagaikan bulan purnama.
Abu Hurairah r.a. berkata: Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan Al-Asadi sambil menjinjing selimutnya, lalu berkata: Ya Rasulullah. doakan semoga Allah menjadikan aku dari golongan mereka. Maka Nabi saw. berdoa: Ya Allah, jadikanlah dia dari golongan mereka.  Kemudian seorang sahabat Anshar berdiri dan berkata: Ya Rasulullah doakan semoga Allah menjadikan aku dari golongan mereka.  Jawab Nabi saw.: Engkau telah didahului oleh Ukasyah r.a.  (Bukhari, Muslim).
130. Sahl bin Saad r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda:  Pasti akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu (periwayat ragu, antara 70 ribu atau 700 ribu), bersama-sama yang satu memegang yang lain, tidak masuk yang pertama sehingga masuk juga yang akhir, wajah mereka bagaikan bulan purnama. (Bukhari, Muslim).
131.  Ibn Abbas r.a. berkata:      Pada suatu hari Nabi s.a.w. keluar pada kami dan bersabda:  “Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat semuanya,  ada seorang Nabi yang bersama satu orang, ada yang bersama dua orang, dan ada yang bersama rombongan tujuh orang, ada juga seorang Nabi yang sendirian tidak ada pengikutnya, lalu aku melihat rombongan besar yang telah menutup udara, maka aku mengharap semoga mereka umatku, tiba-tiba  diberitahu bahwa mereka Musa dan kaumnya, kemudian dikatakan kepadaku : ” Lihatlah“, maka aku  melihat rombongan yang lebih banyak bahkan telah menutupi ufuk, lalu disuruh melihat ke kanan dan ke kiri, maka aku melihat rombongan yang amat banyak telah memenuhi udara, lalu diterangkan bahwa mereka umatku, dan disamping mereka ada lagi tujuh puluh ribu yang akan masuk surga tanpa hisab.”
Lalu ditinggalkan oleh Nabi dan tidak diterangkan kepada kami sehingga orang-orang berbeda paham. Maka para sahabat berpendapat: Kami lahir dalam syirik, tetapi kami telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tetapi kemungkinan anak-anak kami. Dan tanggapan itu sampai kepada Nabi saw.
Maka Nabi saw. bersabda : Mereka yang tidak mencari nasib dengan burung, tidak berjampi, tidak ber kei (kei = membakar besi lalu ditusukkan ke tempat yang sakit), dan tetap bertawakal kepada Tuhan.  Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan dan bertanya: Apakah aku termasuk mereka ya Rasulullah?  Jawab Nabi saw.: Ya.  Lalu berdiri orang yang  lain dan bertanya: apakah aku dari golongan mereka?  Jawab Nabi saw.:  Engkau telah didahului oleh Ukasyah.  (Bukhari, Muslim).
132.  Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata: Kami bersama Nabi saw. di dalam gubah (kemah), tiba-tiba Nabi saw. bertanya : Apakah kalian rela bila kalian merupakan seperempat ahli surga?  Jawab kami, Ya.  Lalu Nabi saw. bertanya lagi : Apakah kalian rela bila kalian menjadi sepertiga penduduk surga?  Jawab kami, Ya.  Lalu Nabi saw. bertanya lagi : Apakah puas bila kalian menjadi separuh penduduk surga?  Jawab kami, Ya.  Lalu Nabi saw. bersabda:  Demi Allah yang jiwa Muhammad di tanganNya, sungguh aku berharap semoga kamu merupakan sepenuh penduduk surga, dan tidak akan dapat masuk surga kecuali jiwa yang muslim, sedang kalian jika dibandingkan dengan pemeluk kesyirikan bagaikan sehelai rambut putih di tengah kulit sapi hitam.  (Bukhari, Muslim).
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ فِي قُبَّةٍ فَقَالَ أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا شَطْرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَذَلِكَ أَنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَمَا أَنْتُمْ فِي أَهْلِ الشِّرْكِ إِلَّا كَالشَّعْرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ..

FIRMAN ALLAH KEPADA ADAM: “KELUARKAN UTUSAN NERAKA, DARI TIAP SERIBU, SEMBILAN RATUS SEMBILAN PULUH SEMBILAN”


FIRMAN ALLAH KEPADA ADAM: “KELUARKAN UTUSAN NERAKA, DARI TIAP SERIBU, SEMBILAN RATUS SEMBILAN PULUH SEMBILAN”




133.  Abu Sa’id Al Khudriy r.a. berkata,  Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Adam, “. Nabi Adam ‘Alaihissalam menjawab: “Labbaika, kemuliaan milik-Mu dan segala kebaikan berada di tangan-Mu”. Kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah utusan neraka”. Adam bertanya; “Apa yang dimaksud dengan utusan neraka? (berapa jumlahnya?) “. Allah berfirman: “Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh Sembilan dijebloskan neraka!, Ketika perintah ini diputuskan, maka anak-anak belia menjadi beruban, dan setiap wanita hamil kandungannya berguguran dan kamu lihat manusia mabuk padahal mereka tidaklah mabuk akan tetapi (mereka melihat) siksa Allah yang sangat keras”. (QS. Alhajj 2), Para shahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, adakah diantara kami seseorang yang selamat?”. Beliau bersabda: “Bergembiralah, karena setiap seribu yang dimasukkan neraka, dari kalian cuma satu, sedang Sembilan ratus sembilan puluh sembilannya dari Ya’juj dan ma’juj”. Kemudian Beliau bersabda: “Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap kalian menjadi di antara seperempat ahlu surga”. Maka kami bertakbir. Kemudian Beliau bersabda lagi: “Aku berharap kalian menjadi di antara sepertiga ahlu surga”. Maka kami bertakbir lagi. Kemudian Beliau bersabda lagi: “Aku berharap kalian menjadi di antara setengah ahlu surga”. Maka kami bertakbir sekali lagi. Lalu Beliau bersabda: “Tidaklah keberadan kalian di hadapan manusia melainkan bagaikan bulu hitam pada kulit sapi jantan putih atau bagaikan bulu putih yang ada pada kulit sapi jantan hitam”. (Bukhari, Muslim).


http://bukharimuslim.wordpress.com/

Hukum Pakaian dan Perhiasan


MEMAKAI WADAH EMAS & PERAK UNTUK MAKAN DAN MINUM.


1337.  Dari Ummu Salamah r.a., Rasulullah saw. bersabda: Orang yang minum dari bejana yang terbuat dari perak, sebenarnya ia menuangkan api neraka Jahanam ke dalam perutnya. (Bukhari, Muslim).

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الَّذِي يَشْرَبُ فِي إِنَاءِ الْفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ



HARAM MEMAKAI CINCIN EMAS DAN SUTRA BAGI LAKI-LAKI


1338.  Al Bara’ bin ‘Azib r.a. berkata: Nabi saw. memerintahkan kami tentang tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara pula. Beliau memerintahkan kami untuk; mengiringi jenazah, menjenguk orang yang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang dizhalimi, berbuat adil dalam pembagian, menjawab salam dan mendoakan orang yang bersin. Dan Beliau melarang kami dari menggunakan bejana terbuat dari perak, memakai cincin emas, memakai kain sutera kasar, sutera halus, baju berbordir sutera dan sutera tebal. (Bukhari, Muslim).

1339.  Abdurrahman bin Abi Laila berkata: Kami berada di tempat Hudzaifah. Hudzaifah minta minum lalu diberi minum oleh pembesar negeri itu dalam bejana perak. Maka bejana itu dilemparkan oleh Hudzaifah seraya berkata:  Ku kabarkan kepadamu bahwa aku telah memerintahkan kepadanya untuk tidak memberiku minum dalam bejana perak. Karena sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda:  Jangan minum dalam bejana emas atau perak, dan jangan memakai sutera kembang atau sutera biasa, karena barang-barang itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia, dan untuk kamu kelak di akhirat. (Bukhari, Muslim).

1340.  Abdullah bin Umar r.a. berkata: Umar bin Khatab r.a. melihat perhiasan sutra dijual di muka pintu masjid, kemudian ia berkata:  Ya Rasulullah, andaikan engkau membeli itu untuk engkau pakai hari Jumat dan ketika menerima utusan jika datang kepadamu.  Maka Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya yang memakai itu hanyalah orang yang tidak mendapat bagian di akhirat.  Kemudian tidak lama Nabi saw. mendapat beberapa perhiasan sutra, maka beliau memberi satu kepada Umar bin Khatab r.a., dan Umar r.a. berkata:  Ya Rasulullah, engkau memberiku pakaian itu sesudah engkau bicara demikian terhadap perhiasan utharid.  Maka Sabda Nabi saw.: Aku tidak memberi kepadamu itu supaya engkau pakai.  Maka oleh Umar diberikan kepada saudaranya yang masih kafir di Makkah.  (Bukhari, Muslim)