Showing posts with label Tadabbur. Show all posts
Showing posts with label Tadabbur. Show all posts

Wednesday, November 30, 2011

Ampunan dan Doa (42:25-26)


Ampunan dan Doa (42:25-26)

Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, (42:25)

dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. (42:26)

Inilah sebagian ayat yang membicarakan tentang ampunan dan doa. Topik tentang ampunan dan doa adalah topik sangat penting, karena menyangkut nasib manusia di akhirat dan juga nasib di dunia. Bagaimana tidak, harapan utama di akhirat adalah agar dosa dan kesalahan selama hidup di dunia diampuni oleh Allah. Betapapun besarnya dosa dan maksiat seseorang, ampunan selalu menjadi harapan besarnya. Dan Allah telah menjanjikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat. 
Sedangkan Doa adalah sebuah harapan yang disandarkan kepada Allah dengan sebuah keyakinan bahwa Allah akan memudahkan orang yang berdoa mencapai harapannya. 
Isi doa sangat beragam. Bisa berhubungan dengan kehidupan akhirat, bisa juga berhubungan dengan kehidupan dunia. Bahkan bisa jadi doa yang berhubungan dengan kehidupan dunia lebih dominan dibandingkan dengan akhirat. Karena doa tentang sesuatu yang berhubungan dengan akhirat sangat dipengaruhi oleh keimanan seseorang, terutama keimanan tentang kehidupan akhirat yang abadi, tentang siksa neraka dan surga, dan tentang kematian. Pendek kata seseorang yang sedang berada dalam gelimang dunia sehingga membuatnya lupa kepada Allah dan kehidupan akhiratnya, lebih sering lupa berdoa untuk kehidupan akhiratnya.
Sebaliknya doa yang berhubungan dengan kehidupan dunia lebih sering dilantunkan, baik dilantunkan dengan bibirnya setelah shalat atau waktu-waktu yang lain, ataupun dilantunkan dalam hati pada waktu-waktu utama untuk berdoa dan bahkan di setiap waktu. Belum lagi pada umumnya manusia lebih mudah mengenali problem yang berhubungan dengan dunia dibandingkan dengan problem yang berhubungan dengan akhirat. Maka tidak aneh jika doa yang berhubungan dengan dunia lebih dominan dilantunkan seseorang dibandingkan doa yang berhubungan dengan akhirat.
Itulan Ampunan dan Doa yang sesunggunya merupakan bagian
tak terpisahkan dari kehidupan manusia. 
Dua ayat tersebut di atas berbicara tentang dua hal ini sehingga karenanya menarik untuk diulas dan ditadabburi. Pemahaman yang benar tentang kedua ayat diharapkan bisa menjadi motivasi bagi seseorang untuk menggapai kehidupannya yang dipenuhi dengan ketenangan jiwa dan kebahagiaan yang sebenarnya serta beroleh keselamatan di akhirat kelak. Apapun peristiwa yang menimpanya bisa membuatnya tetap dalam ketenangan dan kebahagiaan, sebab sesungguhnya ketenangan dan kebahagiaan itu adalah bagaimana sikap kita terhadap peristiwa yang terjadi, bukan karena seberapa besar peristiwa itu.
Ayat 25 Surat 42 (As-Syura) langsung menyatakan bahwa Allah menerima taubat dan mengampuni kesalahan-kesalahan. Sebuah pernyataan yang sangat motivatif agar manusia optimis bahwa dia diterima Allah dan tidak dibiarkan atau bahkan ditolak oleh Allah. Secara psikis tentu manusia akan memiliki positif thingking kepada Allah. Padahal sebagaimana sebuah hadits qudsi menyatakan bahwa "Ana 'inda dzonni abdi bii", Aku (Allah) tergantung dari persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Ibarat seseorang yang datang dari perjalanan melelahkan kemudai tiba-tiba melihat sebuah istana megah, dan di sana ada sebuah tulisan besar yang menyatakan bahwa "siapapun Anda yang melihat istana ini, silakan mampir sejenak untuk menikmati keindahannya tanpa dipungut biaya". Maka orang tersebut tak ada kehendak lain kecuali segera sampai di istana itu. Betapa sangat indah dan sejuk Allah mengawali ayat ini untuk menumbuhkan harapan besar akan diampuninya dosa dan kesalahan sebesar apapun dosa dan kesalahan itu.
Retorika ayat ini juga sedemikian mengesankan, karena memberikan jalan keluar dari keputusasaan para ahlul ma'ashy (ahli ma'siat) yaitu apabila mereka menginginkan ampunan yang begitu mudah, maka caranya tidak rumit, hanya dengan bertaubat kepada Allah. Maka Allah akan menerima taubatnya dan mengampuni kesalahannya. Taubat perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bukannya berpura-pura hanya untuk menipu Allah dan manusia. Manusia boleh tertipu oleh perbuatan seseorang termasuk yang hanya berpura-pura taubat, tapi Allah tidak. Hal ini dinyatkan dalam akhir ayat 25 ini, bahwa Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sebaik apapun perbuatan seseorang atau seburuk apapun perbuatan seseorang sudah pasti Allah mengetahuinya, sebagaimana sebaik apapun atau seburuk apapun niat seseorang untuk melakukan berbagai perbuatan, maka Allah mengetahuinya dengan jelas dan detil. Allah telah menyatakan bahwa Dia menerima taubat dan mengampuni kesalahan manusia. Pernyataan ini sungguh tidak terlepas dari pengetahuan Allah akan kehidupan manusia. Bahwa bentuk-bentuk perbuatan dosa dan kekejaman manusia telah diketahui Allah seluruhnya, sejak dari manusia pertama sampai manusia terakhir. Tidak satupun jenis kemaksiatan dan perbuatan hina manusia yang pernah dan akan hidup nanti, yang tidak diketahui secara pasti oleh Allah. Kalaupun pada zaman ini ada kelakuan bejat manusia yang sama sekali tidak terbayangkan oleh umat terdahulu misalnya, maka itupun sudah diketahui oleh Allah. Dan terhadap perbuatan-perbuatan seperti itu, semuanya, Allah telah menjanjikan taubat dan ampunan. Maha Suci Allah yang Maha Pengampun. Maka hendaklah taubat dan ampunan ini menjadi inspirasi besar bagi manusia untuk tidak pernah putus asa bertaubat kepada Allah dan mohon ampun atas semua dosa.

"dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. (42:26)"

Ayat ini menegaskan tentang doa. Disebutkan bahwa Allah memperkenankan doa orang beriman dan beramal shalih, bahkan tidak hanya itu, Allah menambahkan bagi mereka karunia-Nya, termasuk pahala. Ayat ini menjelaskan bahwa dikabulkannya doa adalah kekuasaan dan kehendak Allah. Dan Allah menjanjikan bahwa doa orang mukmin dan yang beramal saleh akan dikabulkan. Ayat ini sekali lagi berbicara tentang 'kelayakan' hamba untuk menerima karunia Allah. Sesungguhnya 'kelayakan' ini mutlak milik Allah tanpa syarat, namun Allah yang Maha Bijaksana memberikan tuntunan kepada manusia tentang bagaimana mencapai 'kelayakan' itu menurut ukuran manusia. Maka tuntunan itu adalah dengan menanamkan keimanan dalam diri dan beramal saleh dengan landasan iman dan tuntunan wahyu-Nya. 
Inilah ibroh yang seharusnya diambil dalam hubungan hamba dan Robbnya. Ibroh tentang bagaimana ber-tawazun (menyeimbangkan) dan memahami keberadaan Allah yang Maha Kuasa dan manusia yang secara fitrah memahami seluruh kejadian yang menimpanya dengan rasionalitas akalnya. Bahwa di satu sisi Kekuasaan Allah itu mutlak tanpa syarat meliputi kehidupan dunia dan akhirat seluruh makhluk, termasuk manusia. Di sisi lain manusia yang dikarunia Akal oleh Allah juga diperintahkan untuk menggunakan akalnya mentadabburi Nash Qouliyah dan alam kauny yang ada di sekitarnya. Nash Qouly adalah tuntunan langsung dari Allah melalui Rasul-Nya kepada hamba-Nya, manusia. Ayat Kauny juga sesunggunya tuntunan Allah kepada manusia, namun manusia harus memanfaatkan akalnya agar bisa mengambil pelajaran dan fenomena alam.
Selain dikabulkannya doa, ayat ini juga memberitahukan tentang karunia tambahan bagi orang mukmin dan beramal shalih dari Allah SWT. Saat-saat seorang hamba merasakan doanya sedang dikabulkan Allah adalah saat yang sangat membahagiakan. Namun Allah menambahkan kepada mukmin dan beramal shalih karunia lain yang melebihi apa yang dimintanya.


tadabbur surat al anfal ayat 63




tentang ukhwah (tadabbur surat al anfal ayat 63)


Pernah kudefinisikan ukhwah hadir karena seringnya berinteraksi, sehingga semakin mengenal dan memahami
Pernah kudefinisikan ukhwah hadir karena lapang dan dalamnya hati dalam memahami
Pernah kudefinisikan ukhwah hadir ketika seorang memahami dan membantu saudaranya dengan hati yang lapang dan ikhlas
Ternyata itu semua bukanlah ukhwah itu sendiri, lalu apa itu ukhwah?
Ikhwah fillah, itulah sepenggal pertanyaan yang pernah bergelayut cukup lama di benak saudaramu ini. Ya, sebenarnya ukhwah itu apa? Apakah sekedar seperti yang kusebutkan diatas, ternyata tidak. Menjawab pertanyaan tersebut, segera kubuka buku pedoman hidup seluruh manusia The Holy Koran. Ternyata jawabannya ada disana!!! Ketika kutelusuri ayat demi ayat hingga sampailah aku pada surat Al-anfal ayat 63
dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)]. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana
Coba perhatikan redaksi yang digunakan dan maknanya. Ternyata ukhwah hadir karena pemberian Allah dan merupakan salah satu nikmat Allah kepada hambaNya yang beriman. Karena ukhwah merupakan nikmat yang dikarenakan keimanan kepada Allah maka tak heran bahwa nikmatnya berukhwah pun dirasakan ketika keimanan kita sedang dalam kondisi baik.
Ikhwah fillah, coba kita renungi kembali, ketika ukhwah semakin kering, ketika ukhwah hanya sekedar menjadi pemanis bibir tanpa tindakan, ukhwah hanya ada dalam dunia harapan dan impian, ketika kita semakin tidak nyaman dengan saudara-saudara kita, hal pertama yang harus kita lakukakan adalah mengecek kembali kondisi keimanan kita. Karena siapa tahu keimana kita yang semakin menipis yang membuat Allah mencabut nikmat ukhwah dari hati-hati kita.
Ketika keimanan menipis maka tidak ada lagi hudznuzhan, yang timbul hanyalah prasangka-prasangka yang mematikan hati. Tidak ada lagi tabayun yang ada hanyalah prasangka-prasangka yang sudah pasti ‘ah!! Akh ini mah pasti begini, ukh itu mah begitu’. Mungkin itu yang sering terjadi pada kita semua. Sehingga yang terjadi adalah kecewa dan akhirnya pergi meninggalkan dakwah ini. Apakah itu yang kita inginkan?? Menjadi penyebab saudara kita meninggalkan dakwah ini !?
Karena itu, ketika kita merasa ukhwah diantara kita semakin mengering bahkan kerontang, yang harus pertama kita evaluasi adalah kondisi keimanan kita dan saudara-saudara kita, kemuadian saling ingat mengingatkanlah dalam kebenaran dan ketaqwaan. Moga Allah selalu menghadirkan ukhwah yang tulus ke dalam hati-hati kita.